Siapapun pasti setuju bahwa korupsi memang harus dihapuskan. Karena kita semakin menyadari bahwa korupsilah yang telah merenggut kesejahteraan kita. Saya teringat akan Bapak SBY yang dari awal menekanakan akan memerangi korupsi, dengan program 10000 hari tanpa korupsi. Tidak maksimal hasil dengan program 1000 harinya, SBY beberapa kali mengemukakan tekadnya untuk tetap akan memukul genderang perang untuk tindakan korupsi. Bahkan beliau akan memimpin sendiri perang anti korupsi tersebut. Tidak puas dengan pernyataannya, sampai-sampai SBY mengajak anak-anak sekolah untuk tidak melakukan korupsi. Terakhir idenya untuk mendirikan sekolah antikorupsi dihembuskan lagi (dari halaman depan koran kalteng pos, 1 Maret 2007)
Saya juga ingat, tepat pada peringatan hari anti korupsi se-Indonesia (maaf saya lupa tanggalnya, udah agak pikun!), Hakim Agung dan beberapa pejabat ikut turun ke jalan untuk mengungkakan dan mengkampanyekan gerakan anti korupsi serta menyakinkan kita rakyat dan bahkan pelajar-pelajar di Jakarta bahwa koruspsilah penyebabnya kehancuran negeri kita.
Rasanya sudah banyak sering dan terlalu banyak yang telah dilakukan pemerintah dan pejabat, tapi kenapa tidak pernah surut perilaku korupsi di Indonesia? Tentu kita semua tahu jawabnya, karena yang mereka lakukan bukan tindakan nyata. Mereka hanya berteriak-teriak agar semua tahu bahwa mereka ingin memperjuangkan negerinya. Bahkan, sebagian dari yng berteriak itu juga yang melakukan korupsi (maling berteriak maling, untuk menghilangkan jejak kali). Benarkah begitu?
Saya sebenarnya tidak mengatakan bahwa semua pejabat adalah korup atau semua pejabat tidak benar-benar bersih. Tapi coba kita fikir siapa pelaku korupsi kita kalo bukan pejabat, apakah rakyat jelata ? memangnya apa yang dikorupsi. Tidak, saya tidak mengatakan rakyat tidak korup bukan karena tidak ada kesempatan Kenapa mereka mengajak orang lain bahkan anak-anak bahwa jangan korupsi padahal merekalah yang mempunyai kesempatan untuk korupsi. Kenapa anak-anak sekolah dilibatkan, tepatkah?
Memang benar, kesadaran akan perlunya sikap anti korupsi memang perlu diajarkan disadarkan sejak dini. Dan pendidikan di sekolah penting untuk ikut ambil bagian dalam upaya untuk mengajarkan nilai-nilai anti korupsi. Seperti ajakan SBY kepada siswa-siswi di sebuah sekolah untuk tidak melakukan tindak korupsi. Tapi tepatkah dengan cara seperti itu, atau cukup dengan memberikan pendidikan atau mata pelajaran anti korupsi, yang pernah di gagas beberapa tokoh-tokoh kita? Apakah dengan tindakan itu cukup efektif untuk mencegah tindakan korupsi selanjutnya?
Saya ingat, atas beberapa ibu-ibu yang mengeluhkan bagaimana putra-putri mereka yang justru bermain-main air jika mereka dilarang, ato’ kalo mereka sudah agak besar justru mencoba minum-minuman keras ketika mereka dilarang minum minuman keras.
Lalu apakah kita biarkan melakukan apa saja apa yang mereka mau? Apa mereka, anak-anak kita bisa menyadari dengan sendirinya? Saya lebih yakin diantara pembaca lebih banyak yang tidak setuju karena kita sudah sepakat bahwa pendidikan sangat penting bagi anak, tinggal bagaimana caranya agar pendidikan kita, pendidikan anti korupsi kita lebih efektif.
Yang perlu dilakukan adalah memberikan dengan tauladan. Mungkin resep Aa Gym bisa dipakai yaitu adalah mulailah dari diri sendiri, mulailah sekarang dan mulailah dari hal-hal kecil. Yang paling mudah dilakukan adalah menghindari diri sendiri atau bahkan mengharamkan diri untuk melakukan korupsi. Hal ini lebih mudah karena kalo kita menunggu orang lain, karena hasilnya juga akan terus menunggu karena masing-masing akan saling menunggu. Yang penting laksanakan saja karena inipun bisa menjadi profokasi, masalah orang lain mengikuti itu akan menjadi harapan kita selanjutnya minimal di lingkungan sekitar kita. Memberi contoh kepada anak-anak didik kita dan menjadikan kita sebagai contoh, bukan orsng lain.
Yang tidak kalah penting adalah pembentukan kepribadian. Segala sesuatu yang tak pernah kita lakukan, kemudian harus dilakukan akan sangat sulit kita melakukannya.Atau sebaliknya, sesuatu yang biasa kita lakukan kemudian tiba-tiba menghentikannya maka akan sulit juga menghentikannya /menghindarinya. Seperti melakukan sikat gigi di malam hari sebelum tidur, akan sangat sulut dilakukan kalo kita tidak terbiasa (Betul adik-adik ?) Tapi kalo sudah menjadi kebiasaan, tidak melakukannya akan membuat kita tidak nyaman. Oleh karenanya mulailah dengan hal-hal yang mungkin sebagian besar dari kita menganggap sepele misalnya menghindari berbuat curang. Biasakan anak untuk tidak melakukan kecurangan, misalkan nyontek atau bertanya ke orang lain pada wektu ulangan dsb. Jangan beri kesempatan anak untuk melakukan kecurangan, meski kecil sebenarnya itu adalah bibit mental koruptor di Indonesia.
Melarang melakukan kecurangan harus dibarengi dengan memberikan pemahaman kepada anak tentang bahaya kecurangan atau bahkan memberikan contoh riril tentang dampak-dampak negatif dari kecurangan. Karena tanpa adanya kesadaran pelaksanaan perilaku anti korupsi hanya akan sesaat atau bila dibutuhkan saja, atau bahkan jika ada pengawasan saja
Memberantas korupsi tidak cukup dengan menyiapkan gerakan anti korupsi di sekolah. Kenapa? Akan sia-sia karena sekarang sudah masuk jaman informasi (katanya). Mereka bisa belajar sesuatu tidak hanya dari sekolah. Ada televisi, internet dan banyak media-media yang lain akrab dengan mereka yang bisa dimanfaatkan secara negatif oleh orag-orang tertentu. Ketika anak-anak melihat sediri para koruptor melenggang dengan bebas berkeliaran, sementara disekolah disampaikan secara teori bagaimana korupsi akan sangat menjadikan kita miskin. Anak-anak akan semakin menyadari bahwa teori di sekolah adalah sekedar teori yang berbeda dengan fakta di masyarakat. Sekolah semakin menjauh dari lapangan (fakta). Apa ga tambah berabe? Oleh karenanya ketegasan hukum tetap sangat penting artinya, mengingat hukum yang jelas akan sangat memudahkan kita untuk melakukan menjalankan gerakan antikorupsi. Tapi hal ini harus dibarengi dengan ketegasan oleh para pemegang kekuasaan. Kalo tidak ya akan menjadi sia-sia belaka. Bagaimana tidak kalo para koruptor bisa begitu mudah lepas dari jeratan hukum hanya dengan mengembalikan uang korupsi. Atau bahkan koruptor bisa balik menuntut karena pencemaran nama baik. Hal ini menjadikan contoh-contoh penyelamatan diri yang efektif dari para koruptor negeri ini. Apakah ini yang mau diberikan sebagai pelajaran bagi anak didik kita ?
Bukan matapelajaran anti korupsi yang perlu diadakan, tapi pendidikan moral yang perlu ditingkatkan. Mereka korupsi itu karena memang mereka tidak punya moral. Ya, moral…. bangsa ini memang memiliki moral yang babrak!
Ya memang cara yang tepat adalah bukan langsung melarang tetapi memberikan pemahaman tentang resiko dari suatu perbuatan.
Ha ha perlu ngak perlu korupsi tetap ada … gimana kalu praktek korupsi justru diajarkan dalam praktek di sekolah … Misal demi lulus UN guru kasih kunci jawaban pada murid … guru naik pangkat nyogok … ada lho yang nilep BOS …
Jangan yang perlu memberantas korupsi di sekolah … agar ketika mereka ‘jadi orang’ tidak korup. Maaf, opnin saya agal ngawur atau nyleneh …
Mimpi apa betulan ya. Sekolah di Indonesia juga dipenuhi oleh koruptor. Di sekolah tempat saya mengajar juga penuh koruptor. Sayajuga temasuk seorang koruptor. Hidup Koruptor!
Koruptor penjaranya senyaman Hilton, daripada maling ayam, sekedar kandang ayam. masih bagus kandang ayamnya koruptor.
Naudubillahi min dzalik.
Guru, sejak mereka masih CPNS sudah dibiasakan dengan pungutan tdk resmi oleh atasan; mulai ngurus SK PNS, kenaikan pangkat, mutasi karir sampai urusan pensiun.
Kalau giliran ada kesempatan bisa jadi mereka ingin melakukan praktek yang sama,sasarannya ya anak murid; mulai dari PSB,uang bangunan,seragam,kenaikan kelas, Ujian akhir sampai kelulusan.Mereka juga butuh uang.
Jadi kalau harus mengajar “Anti Korupsi” mana bisa?
Jadilah guru yg selalu menginspirasi siswa agar mereka dari dini jijik dengan yg namanya korupsi…..
Bersihkan hati basuh dengan ketulusan niat, mantapkan dengan tekad untuk berbuat lebih banyak demi membangun peradaban baru di dunia pendidikan Indonesia yg berbasis dan berfondasi pada ketinggian akhlaq dan integritas moral yg tentu saja harus diawali dari para guru nya.
Salam kenal bu dari zainal muttaqien, guru TIK pada MAN Kotabaru, blog saya http://www.elmuttaqie.wordpress.com
ya perlu deh mbak
ass.nurma,.,aku ajarin buat blog dong????
krim lewat emailku aja di
howhow_anakmami@plasa.com
qey???
tak tumggu,.
tx b4
Selamat Siang Mbak…
Salam Salam Kenal dari Balikpapan…
Berkenan bertukar link Mbak..?
Ini Blog Kami:
http://sekolahpramugari.com/emergency-procedure.html
Terima Kasih
Sepertinya saya harus setuju dengan pak Ersis dan pak Willy,berikut dialog yang sering terjadi :
+: kita telah lulus sertifikasi berkat bantuan kadis, kita ngasih berapa ya..
- : ah, itu kan sudah mereka untuk membantu kita
+ : tapi kalau kita gak ngasih, kemudian hari nanti ada urusan lantas dipersulit gimana?
_ : (saya terdiam sejenak, tanda tidak setuju)
+ : kalau pak budi gak mau ya gak papa, tapi berkasnya disendirikan
_ : bukan saya gak mau, sebenarnya kalau kita semua gak ngasih, pasti kadis juga gak bakalan minta
.
.
.
.
korupsi berdalih, ucapan terima kasih, menolong anak, solider teman sejawat, kelancaran tugas, keamanan jabatan