Menulis memang sesuatu yang amat asing bagiku, sesuatu yang amat sulit. Ibaratnya menulis satu kalimat saja setengah mati rasanya.Selama ini saya punya anggapan bahwa orang-orang yang pandai menulis adalah orang-orang tertentu yang kritis dan yang punya bakat sejak lahir. Seringkali saya berfikir bahwa itu adalah mereka dan bukan bagian dari diri saya. Makanya aku hanya bisa mengacungi jempol bagi para jurnalis maupun penulis.
Saya ingat, sewakttu masih sekolah mulai dari SD sampai SMA, pelajaran yang paling saya tidak sukai adalah bahasa Indonesia. Apalagi kalo sudah mengarang, rasanya mati kutu. Ada kerangka atau tidak , rasanya tak ada bedanya. Memang budaya membaca tak pernah aku lakukan selama aku sekolah, sampai kuliah. Paling banter namanya belajar ya belajar mata kuliah yang akan diujikan.
Awal aku membaca buku ersis yang berjudul menulis sangat mudah, saya sempat tersinggung karena diejek terus, semakin kubaca rasanya ejekannya semakin ditujukan ke aku habis-habisa. Betapa tidak, kita dianggap guru bodoh yang bisanya hanya ngomong doang. Bahkan kita disamakan dengan manusia primitif, karena manusia primitif hanya mengandalkan omongan untuk mencapai hajat hidupnya.
Kita yang biasanya ,menjadi panutan anak, bahkan dengan PeDenya menjadi sumber ilmu bagi mereka, ternyata dianggap bodoh.
Tapi mungkin harus saya akui bahwa selama ini kita hanya mebodohi diri, kenapa? Kita sering menyuruh anak untuk belajar tapi kita sendiri tidak mau belajar untuk menjadi yang lebih baik dari hari ini. Kita menyuruh anak mebaca, padahal satu buku saja kadang satu tahun baru selesai membaca. Lalu apakah kita layak mendapat gelar sebagai guru ( orang yang layak di gugu dan di tiru)
Karena sudah terlanjur mendapat gelar (meski pantas atau tidak), yang terpenting adalah kita belajar mulai hari ini, sekarang, atau bahkan detik ini.
Nah kan, ternyata harus diejek dulu baru mau menulis. Terimakasih om Ersis! Oleh karenanya saya ingin mengatakan aku akan mencoba menerima tantanganmu Ersis! Emangnya sudah siap ? Ya ga papalah, meski harus dimulai dari mengeja dulu. Dukung ya !
Kalau menunggu kesiapan kadang malahan kita tidak akan pernah memulai karena kesiapan itu sebenarnya lebih ke niatan. Jadi yang penting niat…bismillahirrohmanirrohiim
)
Semangat terus Bu…
Saya juga sedang belajar menulis, dulu saya tidak senang menulis (karena tidak bisa
Siiiip, buktikan dengan menulis seperti yang Sampeyan telah lakukan. Tinggal, kembangkan dan biasakan. Selamat menulis. Ada yang bisa saya bantu?
Menulis bisa OD juga kata Pak Urip.
kadang ingin menulis tapi selalu dipermasalahkan waktu, selalu saja tidak punya waktu luang untuk, membaca, mengkaji, mempelajari dsb, dsb,… maka tak jadilah untuk menulis, lalu apa yang harus dilakukan mencoba untuk melawan sang waktu atau menunggu ada waktu luang, yakinlah selamanya yang namanya waktu luang itu tak ada sebab menulis itupun adalah suatu kegiatan yang membuat tidak ada waktu luang, nah mulailah dari sekarang, dari hal-hal yang kecil kemudian baru yang besar besar, mulai dari memuji orang baru mengkritik, kalau perlu mengejek itu kasarnya yakann bang ersis soalnya tulisan abang nadanya minor melulu.. tapi lagunya paling siiiiplah untuk didengar dan dinikmati karena memang benar menurut yang salah, kalau amenurut yang benar tentu saja itu salah, bingungkan nah sama… Yo.. aku juga pengen menantang habis-habisan itu bang ersis tulisan mana yang dapat membuat om ersis KO, mungkin ngga ada ,kenapa ayo ? sebab tiap kali om ersis berbicara / menulis tidak lupa menyebutkan tajinya yang sudah rongsokkan itu,” tau apa? yaitu Megister Pendidikan, dia hanya KO kalau sudah punya gelar terbaru yaitu ALAMARHUM. bukan M.HUM, tapi disingkat Alm. dari Universitas AKHERAT CITY ARAB SAUDI, om ersis pasti tak bisa melawat penantangnya yang bernama Nungkar & Nankir, tulisan mana dari om yang berarti bagi yang berdua itu, semua hanya berlaku di dunia tak ada yang berlaku diakherat, ESQ ? atau yang mana? yah.. jadi melantur, entar om ersis malah jadi marah dan sentimen. tapi maaf ya om bukan mendoakan tapi memang semua nmanusi pasti mati. thank…
Kapan updatenya?
Wah, kuliah yang merepotkan atau masih dalam budaya lisan, nih? He he. Bercanda nih.